Welcome to our website

Selamat datang di situs resmi Sidat SulSel. kami melakukan pembudidayaan ikan sidat yang beroperasi di propinsi Sulawesi Selatan dengan target menghasilkan sidat bertaraf ekspor.

Saat ini target daerah pembudidayaan pertama yang akan kami lakukan berada pada wilayah Bone, Soppeng, Wajo (BOSOWA), bila rekan-rekan pembaca tertarik dengan pembudidayan yang kami lakukan, kami dapat menjalin kerjasama dalam bentuk apapun demi membantu meningkatkan hasil ekspor ikan sidat Indonesia kenegara-negara yang membutuhkannya.

Showing posts with label jual sidat. Show all posts
Showing posts with label jual sidat. Show all posts

4/06/2011

SOGILI POSO, KOMODITAS MEWAH UNTUK DIEKSPOR

Sebuah piring berwarna putih diletakkan seorang pelayan di atas meja di sebuah warung makan sederhana di Kota Tentena, tepian danau Poso, Sulawesi Tengah.

Di dalamnya tampak sepotong ikan belut bakar, warga setempat menyebutnya sogili (anguilia spp). Di sampingnya ada lalapan berupa potongan ketimun kupas, daun kemangi segar dan kacang panjang serta dabu-dabu (sambal) berupa irisan bawang merah, tomat dan cabe yang diberi garam secukupnya.

Setelah menyodorkan sayur asam dan sepiring nasi putih, sang pelayan kemudian mempersilahkan saya menyantap hidangan yang bau harumnya telah menyodok hidung dan mengumbar nafsu makan sejak ikan sogili atau masapi itu dibakar di dapur tepat di belakang meja makan yang tepisah dengan dinding papan setinggi satu meter.

“Mari pak, silahkan,” kata Ny. Eli Patodo, pemilik warung tersebut.

Hanya dalam beberapa menit, sogili ini tinggal tulangnya saja. Sayur lalap dan dabu-dabu yang disajikan lenyap bersamaan dengan daging sogili.

Ketika hendak meninggalkan warung sederhana tapi nyaman di ujung jembatan Pamona itu, Ny. Eli Patodo menyebut Rp25.000 untuk harga menu yang baru saja dinikmati.

“Memang begitu harganya. Ini malah sudah agak murah karena sekarang, sogili mulai banyak. Kalau beberapa bulan sebelumnya, harga satu potong ikan sogili goreng atau bakar bisa Rp30.000,” kata Marten, seorang warga Kota Tentena.

Itu sebabnya, hanya sebagian kecil masyarakat Tentena yang biasa makan sogili.

“Torang (kami) di sini kalau tidak ba tangkap sendiri, tidak mo pernah makan sogili. Kalu cuma harap beli, harganya mahal sekali,” katanya.

Ny. Eli Patodo mengemukakan, menu sogili di warungnya tidak hanya dalam bentuk bakar, tetapi ada pula yang digoreng. Yang paling khas untuk masyarakat Tentena adalah menu yang mereka sebut orogo-onco.

Orogo dan onco adalah sejenis bumbu daun-daunan khas Tentena yang dicampurkan ketika ikan sogili dimasak dengan sedikit santan kental sehingga terasa agak asam.

“Cuma maaf pak, orogo onco sogili sekarang tidak. Pembeli sekarang masih sepi karena harga sogili masih tinggi,” ujar Ny Eli lagi.

“Orang disini suka sekali orogo-onco. Kalau mereka punya ikan sogili sendiri, umumnya dimasak orogo-onco,” kata Deni Raurau, seorang warga Tentena lainnya.

Ikan sogili, katanya, paling cocok dimasak orogo-onco karena kandungan lemaknya, apalagi di bagian kulit. Karena itu, kalau dimakan tidak cepat terasa mual sekalipun makan beberapa potong.

“Cuma hati-hati, orang yang menderita kolesterol tinggi atau hipertensi (tekanan darah tinggi) tidak boleh makan banyak ikan sogili,” kata Ny. Eli Patodo yang mengaku selalu menyediakan bawang putih untuk pelanggannya yang menderita hipertensi bila memesan ikan sogili.

Diekspor

Ikan sogili kini menjadi komoditi ekspor yang menarik dari Tentena. Itu pula yang menyebabkan harga sogili segar (hidup) terus melambung.

Pasar ikan sidat di dunia sangat besar, terutama ke Taiwan, Hongkong, Jepang, China dan beberapa negara Eropa dan kebutuhan mereka selama ini belum pernah tercukupi. Ikan sidat di negera-negara itu menjadi menu makanan yang mahal.

Di Taiwan dan Jepang misalnya, harga sogili asal Tentena yang masih hidup konon bisa mencapai Rp350.000/kg.

Joni, seorang pedagang antarpulau sogili ke Jakarta mengaku tidak tahu persis harga sogili di luar negeri, namun diperkirakan cukup tinggi.

“Itu sebabnya, harga beli kita dari nelayan di Tentena dewasa ini cukup tinggi juga. Sogili yang beratnya lebih dari dua kilogram perekor dibayar dengan harga Rp75.000/kg,” ujarnya.

Menurut dia, kalau lagi musim, harga sogili akan tinggi karena pembeli tidak perlu menyimpan lama di dalam keramba untuk dikirim ke Jakarta melalui jalan darat ke Makassar dan pesawat terbang ke Jakarta .

“Kalau lagi musim, setiap satu minggu kami sudah mengirim 300 sampai 400 kg sogili ke Jakarta, tapi di luar musim bisa menunggu sampai sebulan baru bisa mengirim. Ini berarti, resiko mati cukup tinggi sehingga harga biasanya kami tekan,” ujar Joni.

Menurut bapak angkat bagi sebagian besar nelayan pemilik perangkap sogili di Tentena itu, musim panen sogili terjadi pada bulan Pebruari sampai Agustus dimana saat itu air danau Poso akan mengalami pasang.

Penangkapan ikan sogili dilakukan dengan membuat pagar perangkap di mulut sungai berbentuk piramid yang terbuat dari kayu dan bambu.

Di ujung piramid itu dipasang bubu (wuwu) atau pukat untuk menampung sogili yang terperangkap. Saat sogili keluar dari danau Poso dan mulai masuk ke mulut sungai, maka ikan belut itu akan tergiring masuk ke bubu atau pukat.

“Jadi pada subuh hari kita tinggal mengangkat pukat atau bubunya untuk mengambil ikan belut itu,” ujar Tampai (83 tahun), seorang nelayan sogili di Tentena yang memiliki sejumlah perangkap.

Setiap pagar perangkap diusahakan oleh delapan sampai sepuluh orang neyalan dengan pembagian hasil dilakukan secara bergiliran setiap hari. Misalnya si `A` yang mendapat giliran hari Senin, maka seluruh hasil panen pada Senin itu adalah milik `A` demikian seterusnya.

“Ini sudah tradisi yang turun temurun di sini sejak tahun 1950-an,” kata Tampa`i (83) yang tampak masih kuat dan tetap menekuni usaha menangkap belut tersebut.

Musim sogili, kata Tampai biasanya mulai bulan Desember sampai Juni, namun tahun 2009 ini, musim rupanya bergeser dan baru mulai ramai bulan Pebruari 2009. Musim panen sogili diperkirakan mencapai puncak pada bulan Mei.

“Sekarang hasilnya belum begitu ramai, paling banyak 10 sampai 12 kg atau sekitar empat ekor tiap hari. Pada puncak musim, satu hari bisa dapat 20 sampe 25 kg/hari,” ujarnya.

Ikan sogili hidup dengan berat di atas dua kg perekor, dijual kepada pengumpul untuk diekspor dengan harga Rp75.000/kg, sedang yang sudah mati atau yang beratnya di bawah dua kg perekor dijual ke masyarakat lokal atau pengusaha restoran/warung makan seharga Rp45.000/kg.

“Tidak ada kesulitan menjual sogili baik yang hidup maupun yang mati karena pasarnya luas. Pengumpul sogili hidup membeli berapapun yang dihasilkan nelayan dengan harga cukup tinggi, sebab sogili hidup kini telah menjadi komoditi ekspor yang dikirim melalui Makassar,” kata Kaverius, nelayan sogili lainnya yang tinggal di kota Wisata Tentena, sekitar 56 km dari Kota Poso itu.

(Rolex Malaha/FB/ant) http://lepmida.com

Misteri Sidat, Sogili, Pelus (Anguilla spp.) di Indonesia

Anguilla marmorata 3

Di wilayah Pasifik Barat (sekitar perairan Indonesia) dikenal ada tujuh spesies ikan sidat yaitu : Anguilla celebensis dan Anguilla borneensis, yang merupakan jenis endemik di perairan sekitar pulau Kalimantan dan Sulawesi, Anguilla interioris danAnguilla obscura yang berada di perairan sebelah utara Pulau Papua, Anguilla bicolor pasifica yang dijumpai di perairan Indonesia bagian utara (Samudra Pasifik), Anguilla bicolor pasifica yang berada di sekitar Samudra Hindia (di sebelah barat Pulau Sumatra dan selatan Pulau Jawa), sedangkan Anguilla marmorata merupakan jenis sidat kosmopolitan yang memiliki sebaran sangat luas di seluruh perairan tropis (Sarwono, 2000).

Ikan sidat termasuk dalam kategori ikan katadromus, ikan sidat dewasa akan melakukan migrasi kelaut untuk melakukan pemijahan, sedangkan anakan ikan sidat hasil pemijahan akan kembali lagi ke perairan tawar hingga mencapai dewasa. Sejak awal tahun 1980, jumlah glass eel yang memasuki sungai-sungai di Eropa mengalami penurunan hingga tinggal 1% dari jumlah semula (Dekker dalam Dannewitz, 2003). Menurunnya jumlah glass eel yang memasuki suatu wilayah perairan menunjukkan kemungkinan adanya penurunan kualitas lingkungan yang mengancam populasi sidat.

Ikan sidat termasuk dalam genus Anguilla, famili Anguillidae, seluruhnya berjumlah 19 spesies. Wilayah penyebarannya meliputi perairan Indo-Pasifik, Atlantik dan Hindia. Ikan sidat merupakan ikan nokturnal, sehingga keberadaannya lebih mudah ditemukan pada malam hari, terutama pada bulan gelap. Bleeker dalam Liviawaty dan Afrianto (1998), mengatakan bahwa ikan sidat mempunyai klasifikasi sebagai berikut :

Phylum : Chordata

Class : Pisces

Ordo : Apodes

Famili : Anguillidae

Genus : Anguilla

Spesies : Anguilla sp.

Jenis-jenis ikan sidat (Anguila spp.)


  1. Valid Name Author English Name
  2. Anguilla anguilla (Linnaeus, 1758) European eel
  3. Anguilla australis australis Richardson, 1841 Shortfin eel
  4. Anguilla australis schmidti Philipps, 1925
  5. Anguilla bengalensis bengalensis (Gray, 1831) Indian mottled eel
  6. Anguilla bengalensis labiata (Peters, 1852) African mottled eel
  7. Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844 Indonesian shortfin eel
  8. Anguilla bicolor pacifica Schmidt, 1928 Indian short-finned eel
  9. Anguilla breviceps Chu & Jin, 1984
  10. Anguilla celebesensis Kaup, 1856 Celebes longfin eel
  11. Anguilla dieffenbachii Gray, 1842 New Zealand longfin eel
  12. Anguilla interioris Whitley, 1938 Highlands long-finned eel
  13. Anguilla japonica Temminck & Schlegel Japanese eel
  14. Anguilla malgumora Kaup, 1856 Indonesian longfinned eel
  15. Anguilla marmorata Quoy & Gaimard, 1824 Giant mottled eel
  16. Anguilla megastoma Kaup, 1856 Polynesian longfinned eel
  17. Anguilla mossambica (Peters, 1852) African longfin eel
  18. Anguilla nebulosa McClelland, 1844 Mottled eel
  19. Anguilla nigricans Chu & Wu, 1984
  20. Anguilla obscura Günther, 1872 Pacific shortfinned eel
  21. Anguilla reinhardtii Steindachner, 1867 Speckled longfin eel
  22. Anguilla rostrata (Lesueur, 1817) American eel

Sumber: www.fishbase.org

Ikan sidat betina lebih menyukai perairan esturia, danau dan sungai-sungai besar yang produktif, sedangkan ikan sidat jantan menghuni perairan berarus deras dengan produktifitas perairan yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produktifitas suatu perairan dapat mempengaruhi distribusi jenis kelamin dan rasio kelamin ikan sidat. Perubahan produktifitas juga sering dihubungkan dengan perubahan pertumbuhan dan fekunditas pada ikan (EIFAC/ICES, 2000). Helfman et al. (1997) mengatakan bahwa ikan sidat jantan tumbuh tidak lebih dari 44 cm dan matang gonad setelah berumur 3-10 tahun. Anguilla sp. tergolong gonokhoris yang tidak berdiferensiasi, yaitu kondisi seksual berganda yang keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi intersex yang spontan (Effendi,2000).

Stadia perkembangan ikan sidat baik tropik maupun subtropik (temperate) umumnya sama, yaitu stadia leptochephalus, stadia metamorphosis, stadia glass eel atau elver, yellow eel dan silver eel (sidat dewasa atau matang gonad). Setelah tumbuh dan berkembang di perairan tawar, sidat dewasa (yellow eel) akan berubah menjadi silver eel (sidat matang gonad), dan selanjutnya akan bermigrasi ke laut untuk berpijah. Lokasi pemijahan sidat tropis diduga berada di perairan Samudra Indonesia, tepatnya di perairan barat pulau Sumatera (Setiawan et al., 2003).

Juvenil ikan sidat hidup selama beberapa tahun di sungai-sungai dan danau untuk melengkapi siklus reproduksinya (Helfman et al, 1997). Selama melakukan ruaya pemijahan, induk sidat mengalami percepatan pematangan gonad dari tekanan hidrostatik air laut, kematangan gonad maksimal dicapai pada saat induk mencapai daerah pemijahan. Proses pemijahan berlangsung pada kedalaman 400 m, induk sidat mati setelah proses pemijahan (Elie, P., 1979 dalam Budimawan, 2003).

Waktu berpijah sidat di perairan Samudra Hindia berlangsung sepanjang tahun dengan puncak pemijahan terjadi pada bulan Mei dan Desember untuk Anguilla bicolor bicolor, Oktober untuk Anguilla marmorata, dan Mei untuk Anguilla nebulosa nebulosa(Setiawan et al., 2003). Di perairan Segara Anakan, Anguilla bicolor dapat ditemukan pada bulan September dan Oktober, dengan kelimpahan tertinggi pada bulan September (Setijanto et al., 2003).Makanan utama larva sidat adalah plankton, sedangkan sidat dewasa menyukai cacing, serangga, moluska, udang dan ikan lain. Sidat dapat diberi pakan buatan ketika dibudidayakan (Liviawaty dan Afrianto, 1998). Tanaka et al.(2001) mengatakan bahwa pakan terbaik untuk sidat pada stadia preleptochepali adalah tepung telur ikan hiu, dengan pakan ini sidat stadia preleptochepali mampu bertahan hidup hingga mencapai stadia leptochepali.

Kedatangan juvenil sidat di estuaria dipengaruhi oleh beberapa factor lingkungan, terutama salinitas, debit air sungai, ‘odeur’ air tawar dan suhu. Elver yang sedang beruaya anadromous menunjukkan kadar thyroid hyperaktif yang tinggi, sehingga bersifat reotropis (ruaya melawan arus). Elver juga bersifat haphobi (menghindari massa air bersalinitas tinggi) sehingga memungkinkan ruaya melawan arus ke arah datangnya air tawar (Budimawan, 2003).

Aktivitas sidat akan meningkat pada malam hari, sehingga jumlah elver yang tertangkap pada malam hari lebih banyak daripada yang tertangkap pada siang hari (Setijanto et al., 2003). Hasil penelitian Sriati (2003) di di muara sungai Cimandiri menunjukkan bahwa elver cenderung memilih habitat yang memiliki salinitas rendah dengan turbiditas tinggi. Salinitas dan turbiditas merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap kelimpahan. Kelimpahan elver yang paling tinggi terjadi pada saat bulan gelap.

Ikan sidat mampu beradaptasi pada kisaran suhu 12oC-31oC, sidat mengalami peurunan nafsu makan pada suhu lebih rendah dari 12oC. Salinitas yang bisa ditoleransi berkisar 0-35 ppm. Sidat mempunyai kemampuan mengambil oksigen langsung dari udara dan mampu bernapas melalui kulit diseluruh tubuhnya (Liviawaty dan Afrianto, 1998).

http://www.musida.web.id

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Sidat SulSel Crew | Contact sidat.sulsel@yahoo.com / facebook.com/sidat.sulsel | thank you